SI PENJUAL BUKU
Hallooooo,
Bagaimana kabarnya? Mau sehat ataupun sakit harus tetap bersyukur Alhamdulillah/Puji Tuhan kita masih bisa diberikan untuk tetap bernafas, tapi usahakan sehat dong yaaa hehe. Seperti biasa sebelum lanjut membaca tulisan yg semrawut ini alangkah eloknya kamu enakan dulu posisi rebahanmu atau siapkan dulu cemilan, roko, dan kopi/tehmu sambil denger lagu dari "Banda neira - Sebagai kawan" dan "Dialog dini hari - Aku adalah kamu".
Pedagang mana yg tidak murung jika dagangannya sepi pembeli? Sore tadi sengaja pergi ke palasari karena niat mencari buku random apa aja yg ada disana ditambah udah lama juga ga mampir ke palasari tempat dimana jual/beli buku bekas yg berkualitas dan sudah banyak juga orang tau tentang tempat ini, setelah sampai di parkiran para pedagang disana langsung menghampiri dan menawarkan karena emang cuman aku satu-satu pembeli waktu tadi "butuh buku apa mas? sini mampir liat-liat dulu" dan aku hanya bisa jawab "iya nuhun teh/a ini mau ke ruko temen" tujuannya ke ruko Mas Agung salah satu penjual buku disana yg udah menjadi langganan cuman yg bikin kaget ruko Mas Agung stocknya tinggal sedikit dan gaakan restock karena menurutnya sekarang sepi pendatang sama pembelinya jadi Mas Agung mau nyoba jualan yg lain dan ruko bukunya akan ditutup. Kaget sih pas aku tanya ke Mas Agung "emang sasepi eta mas nyampe kapikiran pindah haluan dagang?" dengan legowonya dia cuman jawab "eleh ku online jeung toko buku nu lewih alus wil" setelah mendengar itu aku tidak menjawab apa-apa cuman mikir padahal lokasinya ini strategis gitu deket dari pasar sama sekolah-sekolah mulai dari sd-kampus, "emang minat baca diurangkan kurang, ditambah nya kitu tadi tea mun hayang rame mah kudu aya spot foto atau buka online jeung nu nyieun masalah mas agung mah soalna kan nu dijual buku didieu second jadi hese hayang ngajual online mah" lanjut Mas Agung dengan tertawa santai sambil nyari buku pesenan aku "enya sih mas faktor kahiji na mah hese oge hayang jualan buku online tapi second mah tong waka second nu anyar ge hese, meskipun aya oge nu neangan buku second karena teu boga duit ciga urang mas" jawab aku sambil mencoba mencairkan suasana "heeh da geus balenghar wil batur mah ngan maneh hungkul nu acan mah" balas becanda Mas Agung "hampir kabeh ieu teh wil sepi paling lolobana nu datang mah kolot jeung budakna we neangan buku pelajaran" lanjut Mas Agung sambil nunjukin buku tulisan Eka Kurniawan yg menceritakan tentang Pramoedya Ananta Toer yg ternyata udah gaakan dicetak ulang lagi kata Mas Agung jadi termasuknya kaya buku langka kayanya.
Setelah dari Mas Agung aku mencoba berkeliling dijajaran ruko-ruko buku lainnya dan yaa bener yg datang kebanyakannya itu orang tua dan anaknya yg mencari buku pelajaran, hanya ada 2 orang perempuan muda yg sedang membeli buku disitu dan ruko lainnya sepi para pedagangnya hanya bisa menunggu pembeli lainnya atau menunggu kabar dari ruko sebelah yg sedang cari buku karena gaada dirukonya. Memang semakin modernnya kehidupan dan gaya hidup membuat kita harus lebih bisa menyeimbangkan antara tidak boleh ketinggalan zaman dan tidak boleh pula kita terlalu mengikuti zaman, sedikit terpukul saat tau keadaan para penjual buku bekas di palasari saat ini bagaimana selain minat baca kita yg kurang kadang kita pula terlalu berlebihan dalam memilih gaya hidup tapi itu terserah masing-masing orang jugakan? Siapa aku bisa mengatur orang lain harus membeli buku bekas di ruko-ruko pinggir jalan yg keuntungan dari penjualannya cukup hanya untuk kebutuhan hidupnya atau biaya anak sekolahnya saja.
Belanja di ruko-ruko jalanan kita bisa belajar untuk membaur dengan yg ada disana entah itu penjual buku, tukang parkir, tukang becak, atau dengan yg lainnya. Sudah lama juga aku menerapkan prinsip untuk berbelanja diwarung kelontong dibandingkan market, beli buku di ruko pinggir jalan, dan keperluan dapur dipasar, soalnya aku hanya berpikir mereka berjualan hanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya tidak untuk membuat mereka semakin bertambah kaya atau yg lainnya tapi itu hanya opiniku saja kalau kalian tidak setuju yaa tidak masalah sebab akupun tidak pernah memaksakan kalian harus mengikuti dan menerapkan prinsipku sebab kita memiliki prinsip yg berbeda bukan?
TRADISI X MODERNISASI
Berbahagialah kalian semua yg berada dimanapun
Para pedagang buku dengan rak lapuknya
Para toko buku dengan segala kemegahannya
Para pejalan kaki lima di trotoar
Para pengguna motor dan mobil di tengah garis putih
Para warung kelontong dengan terpal pudarnya
Para pekerja market yg mencukupi kebutuhannya
Roda zaman menggilas dengan begitu melesat
Meninggalkan harapan yg masih tertinggal
Membangunkan kembali mimpi yg masih lambat
Merubah semua keinginan menjadi tunggal
Aku biarlah begini,
Tidak terlalu cepat
Tidak terlalu lambat
Aku biarlah begini,
Tidak terlalu bergaya
Tidak terlihat norak
Aku biarlah begini,
Menikmati kampung kota
Melewati kemewahan kota
Aku biarlah begini,
Tidak ingin berlebihan
Tidak ingin kekurangan
Aku biarlah begini,
Tetap menjadi aku.
Komentar
Posting Komentar